Rabu, 23 Oktober 2013

Meroh Story (Prolog)

PROLOG

"Kekuatan yang telah kuberikan kepadamu, lepaskanlah, anakku!"

Aku tersadar setelah sesaat tertegun karena melihat ratusan atau bahkan mungkin ribuan orang didepanku. Mereka membawa gemuruh yang menyerupai suara geledek bersahut sahutan. Meratakan rumput yang mulai menguning karena musim yang baru.

"Ayah, apa salah kita?"

"Kita adalah pertanda buruk bagi mereka, gertakkan gigimu, tunjukkan superioritas kita."

Disaat yang sama awan gelap muncul tanpa ragu-ragu, menusuk langit cerah. Kecepatannya memotong angin menghasilkan suara merdu saat melesat. Kutajamkan telingaku untuk mendengarkan suaranya, begitu nikmat. Volumenya semakin besar hingga membuatku menengadah kelangit. Hujan panah, pundakku merasakan sengatan sakit yang luar biasa saat dua atau tiga  panah itu menancap masuk.

Aku tidak bisa melawan rasa sakitnya, sampai akhirnya aku mengumpulkan tenaga. Darahku melesat menuju jantungku dan sesaat itu juga aku merasakan badanku semakin tinggi dan berat namun pada saat yg sama terasa lebih ringan. Kekuatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya muncul dengan tiba-tiba. Gelombang panah berikutnya mengenaiku lagi. Kali ini terasa seperti garpu menyentuh kulitku dan terpantul.

"Meraung anakku, raungkan napasmu kepada mereka"



Kulihat ratusan orang sudah hampir mencapai diriku. Tanpa ragu-ragu ku kuteriak dan meraung. Perasaan panas memuncak melewati tenggorokanku membuatku ingin meraung lagi. "AAAARGHH!" "TOLONG!!" "YA TUHAN!" Aku mendengar teriakan mereka sesaat api menyelimuti tubuh mereka. Sekelebat ku melihat beberapa pria dibelakang mereka memotong leher atau menusuk jantung mereka agar meringankan sakit
prajurit mereka.

Nafasku tidak secepat beberapa penunggang kuda yang mencoba menusukku dengan tongkat panjang yang memiliki segitiga tajam seperti taring di ujungnya. Kulitku tidak dapat menangkisnya. Rasa sakit yg kuat menyebabkan ku mengibas tanganku... Salah, bukan tangan, aku mengibas cakarku. Aku bisa merasakan setiap cakar yang menembus zirah, meraup kuda-kuda, dan melempar para pasukan itu. Wagh,tidak kuduga seorang pria, dengan rambut perak panjang yang mengkilat mencucukkan pedangnya kedalam perut kananku. Kurasakan darah terpompa keluar saat ku cambukkan ekorku untuk menghantamnya. "Aku harus pergi, mereka sangat banyak.

Dengan terburu-buru, aku melesak melewati banyak pria lalu mencoba untuk lari. Sayap, sekarang aku punya sayap.  Ku lebarkan sayapku dengan kuat dan mendorong angin sebanyak mungkin. Masih dalam keadaan berlari, aku merasakan angin kencang melewati seluruh badanku. Akhirnya kujejakkan tanah dengan kuat untuk meloncat. Setelah dua-tiga kali mengebaskan sepasang bagian tubuh baruku itu, aku terbang...

Perasaan bebas itu hanya sekejap. genderang telingaku tercabik oleh bunyi terompet dan suara teriakan: "BAALISTAAAAA, SEKARAAANG!".

Aku berusaha menghindar dari puluhan panah yang panjangnya setinggi laki-laki normal. Satu berhasil menancap di kakiku, beberapa lainnya merobek sayapku. Sayapku tidak bisa lagi menahan beratku, tubuhku mulai terbang pendek dan akhirnya, aku sampai disini...

..................

Berkali-kali saya telah mendengar cerita itu. Dan saya yakin itu hanya salah satu dari cerita-cerita dongeng yang pernah ia ceritakan padaku. Dilihat dari fisiknya dia masih berumur 11-12 tahun, tetapi dia seperti telah mendatangi seluruh daratan Moria. Sejak papa memindahkan mama dan saya ke kastil sisi luar kota, Hanya disini saya bisa bertemu seseorang yg lebih muda denganku. Kata pelayan mama, dia sudah bertahun-tahun ditempat ini, di kegelapan penjara bawah tanah kastil utara. Tidak masuk diakal, anak yang
sekecil ini sudah bertahun-tahun disini.

"Saya masih belum percaya, kamu benar-benar sudah bertahun-tahun dibawah kastil ini?" kataku secara refleks.

"11 tahun tepatnya... menurut penanggalan kalian"

"11 tahun? Kamu berhayal, tidak mungkin seorang bayi dijebloskan kedalam kegelapan kelam ini"

"Tubuhku memang kecil, tapi sudah 25 Cornelius lewat semenjak aku dilahirkan..."
*Cornelius adalah nama bulan ke-12 dalam satu periode tahun Chrone.

"25 tahun? lihat saya masih 16 tahun dan saya sudah 30 atau 40 sentimeter lebih tinggi darimu..." dengan cepat ku berdiri tegak, mencoba mengukur tinggiku dengan tinggi anak itu.

"Aku bangsa naga, bangsa naga bisa hidup diatas 1000 tahun. Kami tidak tumbuh cepat seperti manusia..." Bantahnya tanpa mau berdiri dari tempat tidurnya yg berkain cokelat gelap.

---

Empat bulan lalu saya menemukan dia setelah bermain di satu-satunya menara yang ada di kastil.  Pada malam hari setelah seluruh kastil makan malam, seorang pelayan dengan tergesa-gesa membawa sekarung makanan ke dalam menara. Namun dia tidak naik ke atas menara dimana saya sedang berjalan-jalan sendiri mengelilingi kastil. Pelayan itu menggulung kain yang ada didasar menara kemudan mengangkat papan dibawahnya. Papan itu ternyata sebuah pintu tangga bawah tanah. Penasaran, saya mengikutinya turun dengan diam-diam.

Suasananya tidak seperti penjara bawah tanah yang seperti yang pernah diceritakan paman Pillam. Udara tidak dingin dan lembab, Ada rasa hangat yg lembut seperti perapian dikamarku saat masih berada di Istana utama. Yang membuatku bingung adalah mengapa lorong penjara ini hangat walaupun hanya diterangi 3 buah obor yang sepertinya sudah habis termakan api.

Sel-sel penjara itu kosong, Dan pelayan itu dengan agak terburu-buru berjalan cepat menuju ruangan di ujung lorong yang gelap. Makanan yg dibungkus dengan kain kotor itu dimasukkan dengan melemparkannya melewati kisi2 kecil diatas kerangkeng besar yg terbuat dari baja itu. Aku menahan teriak saat sekelebat muncul sosok yang menangkap dan melahap makanan sekarung itu tanpa sisa."i.. itu, makanan untuk hari ini, saya permisi" kata pelayan seperti ketakutan dan langsung berlari kearah pintu.

Untungnya saya sudah dibalik sel lain saat pelayan itu melemparkan makanan itu. Dengan pelan-pelan kumenuju ke kerangkeng. Jarak antara jerujinya sempit, sepertinya hanya genggaman tangan anak-anak yang bisa melewatinya. Bentuknya yang aneh, berbeda dengan sel-sel yang lain. Kerangkeng ini sepenuhnya dikelilingi baja metal merah mengkilat yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bahkan atapnya pun ditutup
oleh baja itu. Dan sepertinya, tidak ada pintu maupun gembok.

Sosok kecil itu seukuran dengan sepupuku yang berumur tiga tahun dibawahku. Tubuhnya yang kecil tidak cocok dengan rambut kepalanya yang panjang melewati punggungnya yang kotor. Ditengah remang-remang kegelapan penjara, Saya tidak bisa melihat jelas wajahnya.

"Permisi..." dia duduk bersila dengan badan bungkuk, tapi tidak bergerak.

"Hai kamu, kamu bisa mendengar saya?" tidak ada reaksi apa-apa.

"Saya Rifa, sebenarnya Yuerifallia, tapi terlalu panjang bukan..."

"kamu siapa?"... tak ada hasilnya juga.

Aku mencari akal untuk membangunkannya, kuambil sebilah sapu kayu disebelah tangga bawah tanah. Tanganku kumasukkan seluruhnya kedalam kerangkeng demi menggapainya.

"hei.. hei..." sambil ku colek dia dengan sapu.

Tidak sabar aku mengayunkan keatas tongkat itu keatas lalu menghujamkannya dengan keras. Aku langsung menyesal karena suaranya mungkin bisa membangunkan seluruh penghuni kastil.

"hoammm, makanan?"

Saya cukup kaget saat dia berbalik melihatku, matanya sayu tapi seperti tanpa emosi sama sekali.

"hai... saya Rifa"

"oh, tidak ada makanan.." dia berbalik dan kembali kesisi semula.

"Jangan tiduuurrr!" suara sapu kembali menggema dengan lantang.

"..."

"Apa maumu?" dia berbalik lagi dengan malas.

"Saya meminta maaf, seorang wanita tidak seharusnya bebuat kasar..." Ucapku sambil membungkukkan badan.

"..."

"Sa.. sa..ya ingin bertanya..."

"tanyakan saja"

"namamu... namamu siapa?"

"Aku tidak bernama, Ayahku memanggilku meroh, artinya anak laki-laki dalam bahasamu"

"Meroh, apa yang kamu lakukan disini? Kesalahan apa yang kau perbuat? Berapa lama kamu disini? Kau tidak ketakutan?","Berapa umurmu?" "Asalmu dari mana?"

"Aku..." aku menunggu jawabannya dengan seksama.

"Lapar..."

Duarrr, tidak sabar aku memukulnya dengan sapu sekali lagi sampai badannya jatuh tertelungkup kelantai batu. "ah, Ma~af..."
...

"Kurang ajar, dia tidur lagi", aku bersungut dalam hati. Kakiku langsung melesat ke gudang dapur dan mengambil setumpuk persediaan makanan. Kembalinya disana saya melempar makanan ke kisi2
diatas kerangkeng yang memang sepertinya dibuat untuk menaruh makanan ke dalam. Badan kecil itu langsung terbangun dan malas-malasan berjalan kearah makanan yang jatuh tidak  beraturan itu. Dia makan dengan rapi namun lahap, tidak seperti gelandangan yang saya lihat di kota.

    Kucoba sekali lagi,"Kau belum menjawab pertanyaanku..."

    "Oh, saya seorang bangsa Naga. bangsaku berasal dari pulau barat sana. Aku ditangkap karena aku naga, cuma itu..."

    "ah bangsamu memuja naga? apa kamu pernah melihat naga? Walaupun mereka terkenal sangat ganas dan tidak suka dengan manusia: saya ingin sekali melihatnya, katanya naga-naga di dataran ini sudah bermigrasi kelautan"

    "Kami tidak memuja naga, kamilah Naga"

    Begitulah dia memulai cerita bagaimana dia ditangkap dan dijebloskan ke bawah kastil ini. Cerita itu dia ulang-ulang sampai hari ini. Dia juga sering menceritakan cerita lainnya. Kisah-kisah sedih akibat ulah-ulah manusia yang menurutnya malah lebih kejam daripada monster. Terkadang dia bercerita mengenai birunya laut, luasnya padang pasir morrad, salju abadi di daratan utara, dan kota-kota perdagangan besar di tepi barat.

    Saya juga tidak mau kalah, menceritakan dongeng-dongeng tentang pangeran dan putri di jaman dulu. Puisi-puisi yang kusukai. Makanan-makanan kerajaan yang nikmat. Dia sering menyergah saat aku menceritakan cerita-cerita yang berakhir bahagia. "Manusia terlalu naif." Walaupun begitu hari demi hari dia mulai menyukai cerita-cerita tentang kehidupan lucu para pelayan dan lelucon ibu-ibu dari mama.

Demi mendengarkan ceritanya, saya selalu menyimpan banyak makanan untuk dibawa kebawah menara.

-------


    "Hei kau mendengarkanku? aku makan sebanyak ini tapi tidak bertumbuh untuk menyimpan energi saat berubah menjadi naga lagi.."

    "Iya, kamu sudah mengatakannya berulang-ulang..."

...

    Terdengar suara ayam bersahut sahutan. Saya terlalu keasyikan mendengar dongeng dari meroh sampai aku tertidur di depan kerangkengnya.

     "nnnnnnnnNNNNNNNNHH" kali ini seperti suara desingan benda yang jatuh dari ketinggian.

    Suara itu diakhiri dengan ledakan keras batu yang hancur.

    "Rifaaa, Putrii Rifaa..." seseorang turun dari tangga penjara bawah tanah itu.

    "Putri, kita diserang. Sang Baginda menyuruh sang permaisuri dan tuan putri untuk pergi dari sini sekarang juga. Mereka... musuh..." dia mengambil nafas sesaat  "mengincar kastil utara ini deluan"

    Jantungku tiba-tiba berdegup kencang, Dengan paniknya, saya langsung berjalan menuju tangga.

    Duarrrr. Terdengar lagi suara keras, kali ini sebagian menara hancur. Untungnya bebatuan tidak jatuh ke arah dalam menara.

    "Meroh.." Saya tersadar setelah membuka tutup pintu ruang bawah tanah yang tertutup oleh debu. "MEROOOH" saya berbalik turun tangga, Mira si pelayan menahan dengan menggenggam tanganku. "Kerangkeng itu tidak punya pintu, dia memang ditakdirkan untuk dikurung disitu seumur hidupnya." "Tidak, kita harus berbuat sesuatu"

    "Tidak apa-apa, Rifa! Kalau ini memang sudah takdirku..." terdengar dari jauh suara meroh yg sepertinya mendengar percakapan kami.

    "TIDAK.. TIDAK... MEROH!"

    Seorang lagi pelayan istana akhirnya datang menarikku dengan kuat. "Meroh.. Meroh" Pintu itu ditinggal terbuka saat Kedua pelayan menarikku ke arah kereta kuda.

    "Mama, Meroh... kita harus menolong Meroh..." Mama memelukku dengan erat didalam kereta kuda , dia berkata-kata sesuatu yg tidak dapat saya dengar dengan jelas.

    "Hor! CEPAT!" teriak mama dengan sigap.

    Terdengar Sang kusir mencambukkan kudanya. Sekelebat kereta kuda itu bergerak dengan cepat. Karena jalanan tidak rata dan kecepatan yang tinggi. Kereta itu berderak dengan suara kencang. Suara derak-derak itu terdengar jelas terlebih karena saya, mama dan dua pelayan wanita tak sanggup berkata-kata.

    "Syuuuttt.. BRAKK.."

    Tidak lama setelah keluar dari gerbang kastil kereta miring dan tiba-tiba terjatuh kesamping kiri. Mira deluan keluar kemudian menolong kami dari atas/pintu kanan kereta. Kesakitan saat memanjat kereta, terlihat banyak bagian kastil sudah hancur, gedung utama sudah bobol oleh terjangan batu-batu raksasa yang dilempar oleh senjat besar yang melempar batu seperti katapel [Catapult]. Menara utara, sudah tidak terlihat lagi. Pasukan yang menjaga kastil masih berjaga diatas dinding kastil, melawan dengan panah. Sang kusir sudah tidak ada, mungkin terkenap panah dari penyerang.

    "Oh tidak, ada pasukan kuda dari utara, LARI! Kita kembali ke kastil" Teriak mama.

    Kami berlari dengan panik, namun kalah dengan kecepatan kuda. Seorang pengendara kuda sudah berada di sisi kiri mama. Dia menarik tangannya yang bersenjatakan pedang lurus bermata dua itu dan dengan cepat menerjang horizontal kearah mama.  Splash, darah keluar dari punggung Mira yang telah mendorong mama menjauh dari penyerang itu. Saya berhenti ketakutan ingin menolong mama yang jatuh tertelungkup.

    "Rifa lari... lari! LARI!!"

    Beberapa kuda lainnya berhenti disamping mama. Dengan sekuat tenaga, saya berbalik kembali lari menuju kastil.

    "MEROH.."

     Dua, tidak... ada tiga kuda yang mengejarku saat aku mencoba sedikit menoleh kebelakang. Bulir-bulir dimataku mulai keluar dengan deras...

    "MEROHH..."

    "MEROHH.."

    "merohHH"

    Nampak dari arah kastil, sosok hitam yang berlari dengan cepat...

   "MEROH?!"

    Tidak, itu bukan meroh, sosok itu memiliki sayap...

    Semakin dekat dan semakin dekat, sosok itu semakin besar... lebih besar dari kuda...

    "rifa.." itu suara Meroh..

    "meroh..."

    "RIFAA"

    Entah apa yg menjegal kakiku hingga ku terjatuh dan seketika semua gelap...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Rifa lupa menutup pintu bawah tanah... Dia selalu seperti itu, ceroboh. pikirku sambil tersenyum kecil.    Setiap dentuman batu yang menghantam dinding menambah debu yang masuk kedalam ruangan ini. Aku pasrah menerima apa yang akan terjadi. Biarkanlah batu menutup jalan keluar dan menutup pintu ini dan membiarkan aku mati kelaparan disini.

    "Manusia bodoh, saling membunuh sesamanya" gumamku...

    Aku membaringkan lagi tubuhku, menikmbati dentuman-dentuman keras. Lolongan kesakitan para penjaga kastil. Teriakan-teriakan kapten untuk menaikkan moral prajuritnya. Ratusan panah yang meluncur diangkasa. Derak-derak lari kuda.

    "meroh..."

    suara itu..

    "meroh..."

    "rifa?" dia dalam bahaya. sesaat itu juga aku berdiri.

    Sial, aku tidak bisa keluar...

    "Sang penjaga belenggu aku memanggilmu!"
...

    Terdengar sayup sayup suara yang terdengar bijak membalas, "Sudah lama kamu tidak berbicara denganku..."

    "Syarat itu, apakah masih berlaku?" tanyaku dengan tergesa-gesa.

    "Ya, tentu saja..." suara itu mulai terdengar jelas.

    "Begini, Apakah jika aku mengikat janji setia dengan Rifa aku bisa bebas?"

    "Sang putri? selama anda mengikat janji dengan darah Raja, semua syarat telah terpenuhi..."

    "Baiklah..."

    Dan tanpa berpikir kuucapkan dengan lantang:
    "Saya berjanji dihadapan para pendahuluku, Saya meroh dari Karlgha akan berjanji setia kepada darah dari sang Raja Mighuel,

Yuerifallia Mighuel. Dengan Darah ini sebagai Segelnya" Kurobek sedikit kulitku untuk mensahkan kontrak darah itu.

    "Terima kasih Putra Sang Karlgha, Aku berharap engkau menepati kata-katamu dan setia kepada darahku... Aku tidak pernah terpikir bahwa hari lepasnya segel belenggu ini telah datang... Aku akan pergi, selamat tinggal."

    Syarat agar terlepas dari belenggu yang mengasingkanku dari cahaya selama bertahun-tahun telah terpenuhi. Kerangkeng itu mengeluarkan cahaya terang dan kemudian menghilang ditelan kegelapan bawah tanah...

    "meroh.." suara itu menuntunku ke arah barat kastil...

    Dengan terburu-buru ku keluar, Cahaya matahari meresap kedalam kulitku yang telah lama merindukannya. Hangat, kekuatanku terasa mengalir deras didalam tubuhku.Aku mulai meloncati beberapa runtuhan batu tanpa menurunkan kecepatanku berlari. Sampai akhirnya aku menemukan lobang besar menganga di dinding barat, "Ini dia"

    "meroh" aku melihat rifa berlari menuju kastil, mengarah kemari.

    "rifa.." kujejakkan kaki dengan sangat kuat, berlari dengan sekencang-kencangnya.

    "MEROH"
    
    Bisa, aku bisa meraihnya sebelum serdadu itu mencapainya. Kulepaskan sayapku dengan kuat, badanku semakin panas merasakan panas mentari. Kekuatan itu kembali, menyeruak kedalam tubuhku.

    "...meroh"

    wajah rifa ketakutan melihatku. "Rifa.." aku memanggilnya kembali agar dia mengenalku.

    Rifa melesat dan miring kedepan, dia mulai terjatuh tersandung batu yang terlempar dari sisa-sisa tembok barat...Dengan tarikan yang kencang kudorong angin agar mempercepat lariku. Dengan sekejab, kugenggam tubuh rifa dengan tanganku sebelum dia terjerembap ke tanah. Kali ini kukepakkan sayapku dengan kuat. Sayapku yang dulu telah robek sudah kembali utuh. Aku mulai mencoba meraih ketinggian lagi.

    "meroh, tolong mama, mira, diya.." rifa bergumam.

    Aku kembali menunduk. Terlihat tiga wanita yang ada diantara pasukan yang menggunakan baju zirah lengkap.

    "pfft... aku tidak takut" gumamku.

    Kembali menukik kebawah, kulipat sayap ku rapat sambil menunggu waktu yg tepat untuk mengembangkannya. Wussshhh. Seketika sesaat aku mengmbangkan sayapku lagi, angin meniup keras kearah para prajurit itu. Prajurit-prajurit itu terjengkal dari kudanya, dan beberapa lainnya tidak dapat berdiri terdorong angin dengan sesaat,

    "ADA NAGA! pasukan pemanah bersiap! arahkan panah ke arah barat daya!"

    Tidak buang-buang waktu kuraih tubuh salah satu wanita yang telah terikat dari punggung salah satu kuda yg masih berdiri. Dia masih sadar.

    "perempuan, anda mengenalku..."

    "Lepaskan.. lepaskan.." teriaknya dengan sangat ketakutan.

    "aku anak yang dibawah kastil, naiklah kepunggungku"

    Wanita itu tampak putus asa dan kemudian pasrah, kudorong dia ke atas punggungku.

    "Kaitkan tali kepundakku erat-erat agar tidak lepas"

    Setelah sepertinya aman, ku kembali terbang mencoba mencari wanita lainnya. Satu sudah terbaring bersimbah darah. Ratusan panah baru saja dilepas dari busur para pemanah musuh. Kurendahkan terbangku sampai ketanah dan kudorong seluruh tenaga berharap kecepatanku bertambah. Itu dia, ku banting badanku kearah kanan, mencoba berbalik secara tajam menuju sesosok wanita yang mulai berlari kearah kastil. Tangan kananku yang masih kosong kujulurkan keatas punggung wanita tersebut. Dia kaget saat menoleh kearahku dan pingsan.

     Terdengar teriakan-teriakan marah dari bawah. Aku tidak peduli, kukepakkan sayapku semakin sering untuk mencapai ketinggian yang tidak sanggup diraih panah-panah mereka. Saat sudah mencapai ketinggian yang cukup, kukembangkan sayapku lebar lebar dan mengistirahatkannya. Angin yang kencang menabrak sayapku dan membuatku terbang lebih tinggi lagi, Ku mencoba menoleh kearah punggungku. Gaun wanita itu berkibar ditiup angin kencang, dia sepertinya tertidur, Tali ditangannya masih terikat diantara duri dipundakku. Ditanganku satunya ada rifa, ku genggam dia erat agar tidak terjatuh. Kulihat wajahnya yang tenang dan polos.

"Ayah, maafkan aku, sepertinya memang takdirku untuk berada disisi anak ini..."

.... Prolog ends...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar