Rabu, 04 Desember 2013

Jam Istirahat


"Wah sudah bel masuk,tuh"

Anton memukul bahuku saat aku sedang duduk bengong di pekarangan sekolah melihat jendela lantai 2 gedung Belibis. Disanalah Mika selalu berada, bersama teman-teman doi ngobrol dan bercanda, Kelas 11-A.

"Woy, Bel... jam dua belas... ta tinggal ya!" ancam anton lagi. Ancaman anton tidak kuhiraukan lagi saat, aku melihat Mika mengarahkan matanya tepat ke arahku. Dengan agak panik aku tersenyum, pasti senyumku terlihat sangat dipaksakan. "Seringai serigala miris.." pikirku. Dan sesaat itu juga pikiranku kosong karena... dia tersenyum ke arahku. Ya, dia membalas senyuman ku. Sebegitu gugupnya, aku langsung mengarahkan pandanganku ke arah lain.


"Uwooooo, senyumnyaaaa, sang dewiii, bakal kuingat selaluuu" teriakku dalam hati.

Dengan mencoba agar tetap terlihat cool, aku melemparkan senyum maksimalku lagi kearah jendela.

"NGAPAIN KAMU SENYUM-SENYUM SAMA IBU, PELAJARAN SUDAH DIMULAI, MASUK KELAS SANA!" Teriak Mika,
eh bukan, itu Ibu Lala, guru sejarah. Mati aku...

-----

Besoknya kami sudah nongkrong lagi di tempat duduk pekarangan sekolah. Anton, Ridwan dan Leo masih ngobrol tentang bola tadi malam. "Cih, bicarain bola doang, it's so mainstream, meeennn" Lengosku dalam hati sambil "menunggu Julietku muncul di jendela sana." Sejak kapan aku jadi romantis begini.

"Cuk, denger gak? wasit kemaren curang kan? masak gol nya Obama dianulir." Ridwan memintaku membantu argumennya.

"Lah, seharusnya Obama seneng, dikasih pinalti gratisan dari wasitnya, emang pro-amrik tuh si SBY" Leo menimpali.

"Ribut aja elo pada, ini FF, 500 kata doang. Entar cerita cinta gua tamat deluan sebelum berkembang" Protesku. "Haaaa?" jawab mereka kompak.

Dan istirahat selesai tanpa kumenemukan senyum cinta, eh, Mika...

Saat kami berjalan menuju kelas, aku melihat Mika keluar dari kelas 11-C. Dia seperti kaget melihatku saat berpas-pasan dilorong, dan tersenyum kecil. Dia terlihat terburu-buru kembali kekelasnya.

"Mengapa dia datang dari kelasku ya?" pikirku saat melihat diatas mejaku ada sebuah kado.

Nafasku memburu, "i-itu dari Mika? Mika? MIKAA?!"

Balutan pita dan sebuah kartu menghiasi kado itu. Dengan tangan gemetar dan berkeringat dingin kubuka kartu itu.

"Inilah perasaanku, <3 Mikael"

UWWOOOOOO INI DARI MIKAAAA!!!! MIKA!!! -el?!

"EL? eee.. hee... heee... HEEE?  EL? EL?? MIKAEL?"

Dengan hati-hati, kulirik Mikael yang duduk di dua bangku seberangku. Aku terkejut, tercengang, terkotorkan, terpuruk, tersakiti, terperosok, dan ter-ter-lainnya... Mikael, si mikael dengan mukanya yg kemayu, tersenyum kearahku. Dia memang kembarannya Mika, tapi, tapi, tapi dia laki-laki.

Dengan gugup, aku menggeser kado itu ke ujung mejaku, tanpa sengaja terjatuh. Suara jatuh membuat semua murid dikelas melihatku dengan kebingungan.

Si Mikael, ternyata, *TAEK* sudah berdiri di samping mejaku. *TAEK-TAEK-TAEK*

*MATI GW, TAEK LAH* MATEK GW*

"Daniel, Niel..." kudengar suaranya yang lembut.

"Itu bukan dari gua, hahaha. Kakak takut nulis namanya di kartunya, sampe malah nulis nama gua, hahaha"

"He? Gua ga salah denger kan?" pikirku.

"Akhirnya dia memberanikan diri, setelah setahun cuman bisa ngeliat elo dari jauh, dari jendela kelasnya..."

Entah kenapa sekelas rusuh pada ngelempar kertas ke arahku, dan wajah para siswi di kelas merah padam...

"BOOOOO, GAAAYYYYYYYY, DASAR GAY~" si Anton berteriak dan diikuti oleh siswa-siwa lainnya.

Aku baru menyadari ternyata aku dari tadi memeluk Mikael erat-erat didepan anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar