Selasa, 17 Desember 2013

Seperti Biasa


Sore itu dia, seperti biasa, duduk dengan santai di kursi taman, menikmati novel yang sudah dua hari kupinjamkan kepadanya.
Dari jauh aku tersenyum sendiri saat melihat dia yg juga sendirian sedang tertawa kecil, tanpa melepaskan pandangannya ke buku.

"Itu pasti sudah di chapter terakhir" benakku sambil berjalan mendekati kursi nya.

Angin bertiup agak kencang diimbangi langit yang sudah tertutup oleh awan, "Awal desember benar-benar bewarna kelabu."
Kulambaikan tanganku saat ku sudah didepannya, dia tersenyum melihatku. Aku gagal menghentikannya saat dia sibuk merapikan tasnya lalu menggeser duduknya lebih kekanan. Meninggalkan ruang kosong di bangku kirinya.


"Langit sudah gelap" sebutku singkat saat ku menengadah sambil menganggkat telunjuk kananku ke atas.
 
"Puk-puk." Bunyi tepukan tangan kirinya dengan bangku kayu itu.

"Ya.. ya.. ya.." kataku, kemudian kuhempaskan badanku ke bangku itu. Dia masih serius membaca.

10 menit berlalu, ku hanya bisa duduk sambil bermain game di hape ku dan terkadang melirik nya.

"Seperti biasa..." gumamku sambil terus menatap lagi layar cerah ditanganku.

"You know..." karena bosan hape kumasukkan lagi dikantong, lalu mengeluarkan roti yang 'seperti biasa' kubawa.

"Duduk disini sudah seperti rutinitas ku tiap hari, pulang dari kampus jam segini..." ucapku sambil mencuil-cuil roti menjadi bagian-bagian kecil.

"Memberi makan burung-burung merpati" kulempar roti dengan hati-hati ke tanah didepan kami. Sekerumunan burung langsung datang menyadari ada makanan gratis.

"Lalu bertemu denganmu, ngobrol, pinjem-pinjeman buku, ketawa bersama, bermain game sama-sama." kataku masih menyebar roti-roti untuk merpati-merpati didepanku.

"Aku mulai terbiasa dengan senyum mu, canda mu, pukulan-pukulan lemahmu saat aku mengerjaimu." Mengucapkan kata-kata ini membuatku mengingat saat-saat 'seperti biasa' di taman ini.

"Mungkin.."

"Mungkin, memang aku sudah jatuh hati..."

"Haha, aku tidak tau bagaimana mengucapkannya..."

"..."

"A..A-AAKU SAYANG KAMU!" Teriakku keras-keras.

Merpati-merpati yang tadinya berkerumun terkaget dan dengan cepat terbang lari menjauh.

Dia tampak terkaget dan melihat kearahku. Dia tersenyum menunjukkan gigi dan sedikit gusi atasnya, lalu memukul pundakku keras-keras.

"Selesaaiiiii..." katanya dengan suara aneh sambil menutup novelnya dan menyerahkannya kepadaku.

"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!" Teriaknya tiba-tiba, beberapa merpati yang tersisa akhirnya ikut terbang mengikuti merpati-merpati yang sudah lari sebelumnya.

"Hahahaha... gua masih bisa merasakan getaran di tenggorokan gua.." tawanya.

"HAAAAAAAH" teriakku menimpali.

"HAAAAAH" teriaknya lagi membalas.

"Hahahahahahaha.." kami tertawa bersama.

....

"Ah langit udah gelap ya, padahal tadi masih lumayan cerah loh" ucapnya dengan nada yg aneh. Dia kemudian mengangkat tasnya dan berdiri.

"Sampai ketemu besok." dia menoleh kebelakang, tersenyum ke arah ku. Aku membalasnya dengan tersenyum dan melambaikan tangan.

"Semoga kamu, seperti biasa, masih ada untuk besok...", gumamku saat dia akhirnya berjalan pergi menyusuri tapak di taman, menuju Gedung Anggrek RS Margaret.
...

"Kalau saja aku bisa mengucapkannya saat dia masih bisa mendengar suaraku..."
Aku masih duduk di bangku taman saat satu per satu tetesan besar hujan turun menimpa bumi. Kuangkat kedua kakiku sejajar ke arah sebelah kanan bangku, menyandarkan kepalaku ke sandaran tangan, menatap langit.
Kuhalang air hujan masuk ke mataku dengan kedua tanganku.
Hujan semakin deras...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar