"Ibu lagi mencuci peralatan dapur, cepet pulang ya cantik, hati-hati dijalan. :)"
Suara gemercik air wastafel mengisi ruangan dapur saat ku menekan tombol send untuk putri tunggal kami yang sekarang kuliah di Bandung. Air sabun yg berwarna merah muda memenuhi permukaan cucian. Susah payah kubersihkan tangan dan pisau yang dari tadi kugenggam. Seharusnya langsung kubersihkan dari tadi sebelum nodanya mengering, pikirku.
Malam ini agak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Hari ini sungguh damai dan sunyi, sampai-sampai dengung lampu neon di ruang keluarga masih terdengar. Sayup-sayup suara televisi dari rumah tetangga sebelah ikut membelah kesunyian dapur "Hanya seratus sembilan puluh sembilan ribu, pesan sekarang juga. Hanya se... ..."
Setelah membersihkan wastafel dan seluruh peralatan makan, menutup air keran, dan menggantungkan celemek, Aku langsung duduk di sofa depan televisi. Dengan geliat kehidupan di televisi diriku kembali merasa hidup, senyum, tawa, tangis, dan marah, walaupun tidak ada siapa-siapa di rumah ini.
"zaazaaazaaa..." siaran telah lama selesai, aku masih terpaku dengan cahayanya. hitam putih dan abu-abu, suara berisik itu mengisi celah-celah kesepian malam. 10 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam, 3 jam... Aku sudah lupa berapa lama berada didepan televisi ini. Jam berapa sekarang? apa putriku sudah pulang ke kosnya? Apa dia baik-baik saja dijalan? ah ya, Kemana suamiku? jam segini belum pulang?
Dengan agak sedikit dongkol kurebut hape dari meja untuk menelponnya.
"tuuut... tuuttt..." suara nada memanggil.
Pada saat yang sama samar-samar terdengar bunyi getaran.
Aku berdiri dan berjalan mencari dimana suara getaran itu berasal. Sepertinya dari kamar tidur kami. Benar saja, blackberry suamiku tergeletak diatas bedcover tertutup dengan noda gelap mengkilat, memantulkan cahaya dari luar kamar. Apa dia lupa membawa hapenya ya? Tidak mungkin sih, karena tadi dia kan menelpon dengan hapenya. Iya, tadi dia marah-marah soal aku lupa memasukkan jasnya ke laundry. Ini berarti suamiku sudah pulang. Jarang- jarang dia tidak memanggilku ketika dia telah sampai rumah.
"Ayah? Ayah?" panggilku sambil berjalan cepat, lorong pintu depan tidak ada, kamar mandi, dan dapur juga tak ada. jangan-jangan di garasi. Kakiku tersandung, aku terjatuh setelah badanku menabrak mobil kerja suamiku. Sambil menahan sakit, terlihat sosok yg tengkurap di depan pintu garasi. Jantungku berdegup kencang.
--------
"KURANG AJAR, elo istri yang ga tau untung, Gua CAPEE, kerja dari pagi sampe malam, tapi apa yang ELO kerjakan dirumah? Taunya ngomel sana ngomel sini, gosip sana gosip sini. Tapi tidak ada satupun kerjaan rumah yang BERES! Mana makanan GUA, GUA kan tadi bilang GUA BAKAL LEMBUR, dasar Binatang liar, Parasit! GA TAU DIUNTUNG!"
Tamparan dan pukulan itu sangat menyakitkan, biarpun ini telah jadi makan malam sehari-hari, saya tidak pernah menjadi terbiasa dengan tamparan dan caciannya. Saya tahu dia belum puas memukul saya saat dia berjalan menuju pintu garasi, dia akan mengambil tongkat kayu dari garasi. Saya sudah tak tahan, tak tahan lagi, tangis ku sekuat-kuatnya sampai tenggorokanku tak kuat mengeluarkan suara.
-------
Tanpa sadar badanku telah duduk santai di sofa. wajahku terpaku menatap televisi lagi, melihat semut-semut hitam putih dengan ributnya bergerak menutupi layar kaca. Di tangan kananku kupegang erat-erat sepasang cincin yang kotor diselimuti noda merah kering.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar