Jumat, 13 Desember 2013

Sarapan Pagi

""Xo La'Cafe" apa artinya ya?" benakku dalam hati saat membaca cetakan tulisan di atas sorbet kertas yang diberikan pelayan kedai kopi saat mengantar kopi hitam pesananku. "Mungkin ada artinya dalam bahasa indian Inca, pemiliknya kan seorang indian..." Pikirku sekali lagi sambil sedikit-sedikit menyeruput kopi hitam legam yang masih panas.

Langit begitu cerah saat ku melihat matahari masih mengintip di sisi timur jendela ruangan. Beberapa orang masih sibuk dengan sarapan mereka masing-masing. Pelayan berparas cantik yg tadi mengantarkan kopi sepertinya masih terus-menerus mencuri pandang kepadaku. Aku tersenyum simpul saat pandangan kami bertemu. "Kopinya lezat" ucapku sambil mengangkat gelas kopi ke arahnya. Wanita yang sepertinya masih berumur duapuluhan awal itu tersenyum dan mengangguk gugup membalas ucapanku.

Beberapa lama kemudian terdengar ribut-ribut dari dalam dapur kedai. Seorang pria besar yang sepertinya pemilik kedai kopi keluar dari dapur. Dia diikuti oleh seorang pelayan yang wajahnya tertunduk kebawah. Sepertinya dia adalah pelayan yang melayaniku tadi. Sesaat pria itu menatapku dengan wajah curiga.

"Hmm.. lebih cepat dari perkiraan" Ucapku sambil melirik jam.

"Ya sudahlah" gumamku lagi sambil dengan santai mengambil pistol yang sudah dari tadi diatas meja.

"DOR!!" Peluru kaliber .47 menciptakan cipratan merah besar di pintu dan dinding kedai kopi itu.

"DOR!" "DOR!"

"Sepertinya cukup..." celotehku saat menyarungkan pistol itu kembali di pinggangku.

"Sayang sekali aku tidak sempat menghabiskan kopinya. Thank you, Madam" Kutaruh beberapa lembar dollar di atas meja saat melihat sang pelayan sudah lari keluar kedai. Para pelanggan lain ternyata juga panik berebutan lari keluar kedai. Kutinggalkan kertas foto hitam-putih pria besar itu diatas tubuhnya, dengan meninggalkan catatan kecil.

"Kepada: Sherrif. Aku akan kembali untuk menagih uangku, Terima kasih banyak..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar