"iiiiooooiiiioooo..."
Kujorokkan badanku dari balkon apartemen untuk melihat dengan jelas suara sirene yang sayup-sayup terdengar dari lantai 9.
"Itu
ambulans? atau malah pemadam kebakaran? Bisa bahaya nih kalau gedung
ini kebakaran." Kucoba melihat dengan jelas sumber lampu merah yang
sedang berputar-putar diantara gedung-gedung kompleks apartemen
Sudirman.
"Tapi saya kok ga mendengar alarm kebakaran ya?
biasanya bunyinya 'riiiiinngggg' begitu kan?" tanyaku kepada istriku
yang duduk diam di sofa.
Hehehe, kami baru menikah hari ini,
rasanya senang sekali. Apartemen ini hadiah dari bokap buat pernikahan
kami. Capek sekali rasanya setelah seharian di pesta. Istriku bahkan
belum mengganti gaunnya yang putih bersih. Istriku memiliki kulit yang
pucat membuat gaunnya itu seperti bagian tubuhnya sendiri. Badannya
tidak bergerak, mungkin dia sudah tertidur.
"Jangan tidur disitu,
TV nya kalau tidak ditonton dimatikan dong sayang..." Sebutku sambil
mengeluh, aku menghembuskan nafas panjang dan tersenyum kecil.
Lalu
ku ikut duduk disampingnya didepan televisi. Memegang lembut tangannya
yang pucat dan... ragu-ragu karena tangannya dingin dan kaku.
"Wah,
AC nya terlalu dingin ya, sayang?" kucoba menghangatkan tangannya
dengan menggosokkan kedua telapak tanganku di tangan kirinya yang
lunglai. Dia pasti kecapekan, pikirku. Kemudian kugenggam tangannya
dengan menaruh jemari tangan kananku diantara jemari tangan kirinya yang
kecil. Hehehe, aku merasakan dinginnya cincin kawin kami yg tersemat di
jari manisnya. Senyum masih tergambar di wajahku saat mulai menonton
televisi.
"Badai yang melanda filipina telah merebut korban jiwa
sebesar..." suara televisi terdengar saat aku terbangun di sofa.
"HOAMNNN" tersadar sesaat, aku mencoba meraih tangan yang tadi
kugenggam.
Hmmm? Apa dia sudah kekamar tidur? Saat mencoba
berdiri, terlihat sosok putih di balkon, selendang transparan
melambai-melambai seirama dengan rambut hitam yang berkemilau indah.
Istriku sepertinya penasaran dengan sirene itu.
Dan dia menghilang...
Seketika
itu juga aku terdiam terkejut. A-apa yang dia lakukan? dengan panik
kakiku dengan cepat membawaku ke balkon. Aku tidak bisa melihat dengan
jelas, apa yang terjadi dibawah sana. Tanpa sadar aku sudah berlari
menuju lift, lenganku bergetar saat memencet-mencet tombol lift yang
tidak menyala. "Apa yang kau lakukan, ini mimpi kan? ini mimpi.. ini
cuman mimpi" pikirku saat aku melayang cepat turun melewati tangga
darurat. Kenapa ini terjadi?
Sesampainya di lantai dasar, tanpa
menghiraukan pintu, aku melesat lari ke arah ambulans yang sudah ada di
dekat sosok putih, bukan, gaun itu mulai berubah merah mengisap warna
dari cairan merah di trotoar. Badannya tengkurap, aku berteriak
memanggil namanya sambil menggenggam erat tangannya yang lemah.
"Uugh..." gumamnya, aku terdiam melihatnya.
"ma...uhuk-uhuk..
maafkan aku... aku tidak tau... ka-kamu... akan lo... loncat." Aku
terdiam saat matanya membeku diantara kegelapan malam.
Kulihat tanganku ternyata tidak menggenggam tangan kirinya, yang... yang ternyata mengarah ke arah ambulans.
Dengan berjalan pelan, aku melihat paramedik beberapakali menaruh alat kejut diatas tubuh seseorang yang mirip denganku.
------
"Saya sebenarnya mencintai orang lain..."
"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang? kalau tahu itu, aku... aku...."
"Kau
melihatnya kan, pria yang mendapatkan buket bunga yang kulempar itu.
Saya baru menyadarinya saat dia menatapku. saya baru sadar..."
Sesaat itu juga aku lari ke arah gelap nya malam. Kearah bintang-bintang diseberang sana, dengan tersenyum kecut.
30HariFlashFiction(Day 2)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar