Selasa, 03 Desember 2013

Malam Pertama

"iiiiooooiiiioooo..."

Kujorokkan badanku dari balkon apartemen untuk melihat dengan jelas suara sirene yang sayup-sayup terdengar dari lantai 9.

"Itu ambulans? atau malah pemadam kebakaran? Bisa bahaya nih kalau gedung ini kebakaran." Kucoba melihat dengan jelas sumber lampu merah yang sedang berputar-putar diantara gedung-gedung kompleks apartemen Sudirman.

"Tapi saya kok ga mendengar alarm kebakaran ya? biasanya bunyinya 'riiiiinngggg' begitu kan?" tanyaku kepada istriku yang duduk diam di sofa.

Hehehe, kami baru menikah hari ini, rasanya senang sekali. Apartemen ini hadiah dari bokap buat pernikahan kami. Capek sekali rasanya setelah seharian di pesta. Istriku bahkan belum mengganti gaunnya yang putih bersih. Istriku memiliki kulit yang pucat membuat gaunnya itu seperti bagian tubuhnya sendiri. Badannya tidak bergerak, mungkin dia sudah tertidur.



"Jangan tidur disitu, TV nya kalau tidak ditonton dimatikan dong sayang..." Sebutku sambil mengeluh, aku menghembuskan nafas panjang dan tersenyum kecil.

Lalu ku ikut duduk disampingnya didepan televisi. Memegang lembut tangannya yang pucat dan... ragu-ragu karena tangannya dingin dan kaku.

"Wah, AC nya terlalu dingin ya, sayang?" kucoba menghangatkan tangannya dengan menggosokkan kedua telapak tanganku di tangan kirinya yang lunglai. Dia pasti kecapekan, pikirku. Kemudian kugenggam tangannya dengan menaruh jemari tangan kananku diantara jemari tangan kirinya yang kecil. Hehehe, aku merasakan dinginnya cincin kawin kami yg tersemat di jari manisnya. Senyum masih tergambar di wajahku saat mulai menonton televisi.

"Badai yang melanda filipina telah merebut korban jiwa sebesar..." suara televisi terdengar saat aku terbangun di sofa. "HOAMNNN" tersadar sesaat, aku mencoba meraih tangan yang tadi kugenggam.

Hmmm? Apa dia sudah kekamar tidur? Saat mencoba berdiri, terlihat sosok putih di balkon, selendang transparan melambai-melambai seirama dengan rambut hitam yang berkemilau indah. Istriku sepertinya penasaran dengan sirene itu.

Dan dia menghilang...

Seketika itu juga aku terdiam terkejut. A-apa yang dia lakukan? dengan panik kakiku dengan cepat membawaku ke balkon. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, apa yang terjadi dibawah sana. Tanpa sadar aku sudah berlari menuju lift, lenganku bergetar saat memencet-mencet tombol lift yang tidak menyala. "Apa yang kau lakukan, ini mimpi kan? ini mimpi.. ini cuman mimpi" pikirku saat aku melayang cepat turun melewati tangga darurat. Kenapa ini terjadi?

Sesampainya di lantai dasar, tanpa menghiraukan pintu, aku melesat lari ke arah ambulans yang sudah ada di dekat sosok putih, bukan, gaun itu mulai berubah merah mengisap warna dari cairan merah di trotoar. Badannya tengkurap, aku berteriak memanggil namanya sambil menggenggam erat tangannya yang lemah.

"Uugh..." gumamnya, aku terdiam melihatnya.
"ma...uhuk-uhuk.. maafkan aku... aku tidak tau... ka-kamu... akan lo... loncat." Aku terdiam saat matanya membeku diantara kegelapan malam.

Kulihat tanganku ternyata tidak menggenggam tangan kirinya, yang... yang ternyata mengarah ke arah ambulans.

Dengan berjalan pelan, aku melihat paramedik beberapakali menaruh alat kejut diatas tubuh seseorang yang mirip denganku.

------

"Saya sebenarnya mencintai orang lain..."

"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang? kalau tahu itu, aku... aku...."

"Kau melihatnya kan, pria yang mendapatkan buket bunga yang kulempar itu. Saya baru menyadarinya saat dia menatapku. saya baru sadar..."

Sesaat itu juga aku lari ke arah gelap nya malam. Kearah bintang-bintang diseberang sana, dengan tersenyum kecut.
30HariFlashFiction(Day 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar